Sabtu, 08 Juni 2013

TULISAN 3 (TUGAS 3)

CINTA DAN PERKAWINAN





DESKRIPSI CINTA DAN PERKAWINAN

         Pengertian Cinta
Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan, dsb. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita, dsb. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.

Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan cinta adalah salah satu dari macam emosi yang berupa: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kemesraan.

Pengertian Perkawinan
Duvall dan Miller (1986) mendefinisikan perkawinan sebagai hubungan antara pria dan wanita yang diakui dalam masyarakat yang melibatkan hubungan seksual, adanya penguasaan dan hak mengasuh anak, dan saling mengetahui tugas masing-masing sebagai suami dan istri.
Menurut Undang-Undang Perkawinan Pasal 1 No 1 menyatakan bahwa perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Munandar, 2001).
Sigelman (2003) mendefinisikan perkawinan sebagai sebuah hubungan antara dua orang yang berbeda jenis kelamin dan dikenal dengan suami istri. Dalam hubungan tersebut terdapat peran serta tanggung jawab dari suami dan istri yang didalamnya terdapat unsur keintiman, pertemanan, persahabatan, kasih sayang, pemenuhan seksual, dan menjadi orang tua.
Menurut Dariyo (2003) perkawinan merupakan ikatan kudus antara pasangan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah menginjak atau dianggap telah memiliki umur cukup dewasa. Pernikahan dianggap sebagai ikatan kudus (holly relationship) karena hubungan pasangan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan telah diakui secara sah dalam hukum agama.
Gardiner & Myers (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) menambahkan bahwa perkawinan menyediakan keintiman, komitmen, persahabatan, cinta dan kasih sayang, pemenuhan seksual, pertemanan dan kesempatan untuk pengembangan emosional seperti sumber baru bagi identitas dan harga diri.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan definisi perkawinan adalah ikatan lahir dan batin yang suci antara pria dan wanita yang melibatkan hubungan seksual, hak pengasuhan anak dan adanya pembagian peran suami – istri serta adanya keintiman, komitmen, persahabatan, cinta dan kasih sayang, pemenuhan seksual, pertemanan dan kesempatan untuk pengembangan emosional antara suami dan istri.


BAGAIMANA MEMILIH PASANGAN

Memilih seorang teman hidup merupakan tugas yang maha sulit. Tidak semudah apa yang dikatakan orang: mendapat jodoh. Memang, jodoh yang baik harus dicari, dipilih dengan seksama dan bijaksana.

Bagaimanakah jodoh yang berkenan, yang cocok dapat kita cari dan pilih dari antara sekian banyak calon?


    Pada umumnya setiap orang mempunyai suatu gambaran ideal mengenai calon teman hidup itu. Seringkali gambaran ideal tidak mencakup semua aspek-aspek atau segi-segi kepribadian, akan tetapi hanya meliputi beberapa factor misalnya tinggi badan atau gantengnya saja atau mungkin juga sikap yang penuh pengertian dan lain-lain. Padahal sebagai syaratmemilih teman hidup perlu diperhatikan factor pendidikan, latar belakang kebudayaan, latar belakang keluarga, agama, kesenangan atau hobi dan sifat sifat atau kebiasaan-kebiasaan lain yang kadang-kadang nampaknya kecil tetapi sering berpengaruh besar dalam hubungan suami-isteri. Makin besar perbedaan yang terdapat di antara kedua calon, makin banyak itikad baik dan pengertian di butuhkan demi tercapainya penyesuaian dan kesesuaian. Mencari teman hidup seolah-olah harus melalui suatu proses seleksi dari beberapa calon. Calon-calon tentunya harus dipilih dari sumber yang luas dari kelompok sosial yang bermacam-macam. Hal ini hanya mungkin di capai melalui pergaulan yang luas. Pergaulan yang luas perlu supaya dan kemungkinan memperoleh seseorang yang sesuai dengan gambaran ideal lebih besar, daripada pergaulan yang terlalu terbatas.

    Memilih pasangan hidup dengan pemikiran dan pertimbangan yang bijaksana.Ini berarti bahwa pilihan betul-betul melalui proses pertimbangan dan tidak hanya berdasarkan cinta yang semata-mata dilandasi oleh nafsu birahi semata. Dalam hal ini perlu di bedakan antara cinta birahi dan kasih sayang.


Cinta birahi atau “erotic love” atau “romantic love”, sangat erat bertautan dengan keadaan luar yakni penampilan yang menggairahkan atau suasana yang merangsang nafsu birahi. Cinta demikian ini lebih mementingkan pemuasan dan kesenagan diri sendiri. Sebaliknya kasih sayang lebih bertautan dengan member sayang, member kepuasan dan kesenangan kepada orang lain.

Kasih sayang lebih banyak di tentukan oleh orangnya sendiri, oleh kesediaannya member sayang dan member kesenangan, jadi tidak terlalu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitarnya. Juga kasih sayang akan lebih menetap sifatnya, dan tidak terlalu cepat berubah. Sebaliknya pilihan yang didasarkan pada romantic love yang terlalu dipengaruhi  sifat dari luar atau segi-segi penampilan dan jasmaniah, akhirnya cepat berubah seperti halnya pada perubahan penampilan dan jasmaniah.


Pada umumnya sebelum menikah calon pengantin berada pada masa puncaknya penampilan. Baik pria maupun wanita sedang berada pada tahap perkembangan fisik yang sebaik-baiknya, bagaikan “bunga yang sedang merekah” . Sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun perubahan-perubahan jasmani  mulai terlihat. Lalu bagaimana dengan “cinta” itu, apakah juga menghilang bersamaan dengan menghilangnya kecantikan sang istri dan gantengnya sang suami? Seharusnya menghilang atau melunturnya cinta tidak boleh terjadi.


SELUK BELUK HUBUNGAN DALAM PERKAWINAN 



Melalui perkawinan, hampir setiap orang berharap akan memperoleh kebahagiaan. Namun, antara cita-cita dan kenyataan bisa berbeda. Perkawinan yang menjadi dambaan, setelah berlangsungsekian waktu, ternyata justru menjadi neraka. Kita dapat menemukan banyak pasangan benar-benar bahagia dalam perkawinan yang panjang (abadi), tetapi tak jarang menemukan perkawinan bubar ditengah jalan.


Pengalaman menyedihkan

Perceraian, meskipun frekuensinya cukup tinggi, khususnya dikalangan selebriti, bagaimanapun merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan bagi yang mengalaminya. Baron dan Byrne (1994) dalam bukunya, Social Psychology, memaparkan temuan para peneliti mengenai akibat perceraian. Fischman menemukan adanya penderitaan emosional yang dialami baik laki-laki maupun perempuan yang perkawinannya gagal. Mereka mengalami kesepian, depresi dan perasaan marah yang relative menetap.


Beberapa peneliti lain menemukan akibat yang lebih menyedihkan pada anak-anak dari pasangan yang gagal perkawinannya: mereka merespon dengan perasaan yang sangat negative, memiliki self-esteem rendah (merasa tidak berharga), cemas, merasa tak berdaya, dan mengalami masalah dalam relasi sosial serta akademik.


Disisi lain, dalam survey-survei mengenai kebahagiaan dalam beberapa dekade, hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan menikah lebih bahagia daripada yang tidak pernah menikah ataupun bercerai. Gambaran semacam ini dapat menjadi cermin, betapa kita memerlukan informasi bagaimana mengelola hubungan dalam perkawinan agar sebuah perkawinan yang telah dirajut dapat berlangsung abadi.




Aneka Problem



Ketika suatu pasangan mengakhiri suatu hubungan, yang paling sering dikemukakan sebagai alasan adalah “tidak lagi ada kecocokan” atau secara implicit dinyatakan adanya pihak ketiga (The other woman/man).

Pada dasarnya ada beberapa tipe sumber masalah dalam perkawinan. Diantaranya adalah konflik yang khas dalam relasi antara laki-laki dan perempuan, menemukan ketidakcocokan, dan kebosanan.


Konflik yang khas dalam interaksi pria dan wanita

Berdasarkan survey terhadap ribuan responden, ditemukan bahwa para wanita pada umumnya merasa sedih bila pasangannya tidak sungguh-sungguh mencintai dan melindungi secara gentle, sedangkan para pria sedih bila pasangannya menolak seksualitasnya dan mengabaikan. Penelitian lain menemukan bahwa karakteristik tertentu dapat memicu konflik, seperti emosi yang tidak stabil, tidak sensitive (unperceptive), dan juga yang dalam hubungan merasa takut di manipulasi (menjadi mudah curiga).


Menemukan ketidakcocokan

Perasaan negatif sering timbul pada pasangan yang menemukan beberapa perbedaan dalam sikap, nilai-nilai hidup, dan pilihan-pilihan lainnya. Mereka kurang mendalami persamaan yang ada disamping perbedaannya. Hal ini biasanya terjadi pada pasangan yang cintanya bertipe passionate, lebih bersandar pada emosi. Idealnya pada awal hubungan mereka sudah saling mengenali perbedaan maupun persamaan yang ada. Namun, perbedaan kadang-kadang muncul kemudian, tanpa kesempatan antisipasi. Contohnya , salah satu pasangan berpindah keyakinan agama, politik, menjadi peminum, menemukan minat tinggi terhadap kehidupan diluar rumah, dan sebagainya.


Kebosanan


Bagi sebagian orang, menjalin hubungan dalam jangka panjang dirasa membosankan. Ada pasangan-pasangan yang memutuskan untuk bercerai hanya karena terjadi kebosanan satu sama lain. Untuk menghindari kebosanan, seperti yang telah kita ketahui, sekali waktu pasangan perlu mencari stimulasi baru dalam bentuk rekreasi, makan malam special, saling berbagi hobi baru, memperbaharui praktik hubungan seksual dan sebagainya.


Dipengaruhi oleh berbagai permasalahan yang ada, pasangan-pasangan akan mengembangkankelekatan satu sama lain. Kelekatan itu berbeda-beda antara pasangan satu dengan yang lain. Tipe kelekatan ini akhirnya menentukan keberhasilan atau kegagalan hubungan perkawinan.


Hazan & Shaver (Baron & Byrne, 1994; Deaux et.al.1993) memaparkan adanya tiga tipe kelekatan, yakni Avoidant (tidak nyaman dalam kedekatan/keintiman dan kurang percaya terhadap pasangan), anxious-ambivalent (mempersepsi pasangan terlalu jauh, tidak mencintai dan ingin meninggalkan), dan secure (kesiapan utnuk berhubungan erat, merasa nyaman bergantung terhadap pasangan, dan tidak ada kekhawatiran bahwa pasangan akan meninggalkan).


Menurut penelitian, dari tiga tipe kelekatan ini ternyata hanya tipe secure yang memungkinkan pasangan untuk membina hubungan jangka panjang, bertanggung jawab, dan puas dalam hubungan.

Beberapa hal lain yang diketahui dapat mempengaruhi kegagalan dalam perkawinan diantaranya adalah: penghasilan rendah atau tidak stabil, pendidikan tidak seimbang, pengalaman perceraian sebelumnya, neurotisme, harapan akan hubungan yang tidak realistis, kurangnya  cumbu rayu, keinginan untuk mandiri, kebutuhan berkuasa terlalu tinggi pada pria, kebutuhan berprestasi terlalu tinggi pada wanita, perkawinan dini, dan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.



PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN KEMBALI



Perceraian



Adakalanya, perkawinannya yang telah dijalin selama beberapa waktu sebelumnya (bulan,tahun, puluhan tahun), ternyata harus diakhiri dengan pengalaman yang menyakitkan hati diantara keduanya, yaitu perceraian. Perceraian (divorce) merupakan peristiwa yang sebenarnyatidak direncanakan dan dikehendaki kedua individuyang sama-sama terikat dalam perkawinan. Perceraian, bagaimanapun dianggap sebagian orang ialah jalan terakhir yang harus ditempuh ketika hubungan perkawinan itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi.


Dinamika Proses Perceraian


Pasangan suami istri yang akan bercerai ditandai dengan sebuah proses perpisahan. Jadi, perceraian tidak langsung menyebabkan kedua pasangan individu yang menikah itu berpisah secaratotal begitu saja (tiba-tiba). Perceraian merupakan titik kumulasi dari akumulasi berbagai permasalahan yang menumpuk beberapa waktu sebelumnya. Menurut ahli psikologi perkawinan, Paul Bohannon (dalam Turner dan Helms, 1995) mengatakan bahwa ada enam tahap terjadinya proses perceraian, yaitu:

1.       Perpisahan secara emosional

2.       Perpisahan secara hokum

3.       Perpisahan secara ekonomis

4.       Perpisahan koparental (pengasuhan anak)

5.       Perpisahan komunitas dan

6.       Perpisahan dari ketergantungan



Akibat-akibat Perceraian


Individu yang telah melakukan perceraian, baik disadari maupun tidak disadari akan membawa dampak negatif. Hal-hal yang dirasakan akibat perceraian tersebut, diantaranya sebagai berikut:


a) Pengalaman traumatis pada salah satu pasangan hidup (laki-laki atau perempuan)

Individu yang telah berupaya sungguh-sungguh dalam menjalankan kehidupan pernikahan dan ternyata harus berakhir dalam perceraian, akan dirasakan kesedihan, kekecewaan, frustasi, tidak nyaman, tidak tenteram, tidak bahagia, stress, depresi, takut dan khawatir dalam diri individu. Akibatnya individu akan memiliki sikap benci, dendam, marah, menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan mantan pasangannya. Selain itu seringkali individu yang telah bercerai tidak dapat tidur, tegang, sulit konsentrasi dalam melakukan pekerjaan, tidak berdaya dan putus asa. Kalau kondisi psikis tersebut tidak tertanggulangi dengan baik, bisa mengakibatkan gangguan psikosomatis, bunuh diri atau gangguan psikologis lainnya (psikosa/gila)



b) Pengalaman  traumatis anak-anak

Anak-anak yang ditinggalkan orangtua yang bercerai juga merasakan dampak negative. Mereka mengalami kebingungan harus ikut siapa, yaitu apakah ikut ayah atau ibu. Mereka tidak dapat melakukan proses identifikasi pada orang tua. Akibatnya tidak ada contoh positif  yang harus ditiru. Secara tidak langsung, mereka mempunyai pandangan yang negative (buruk) terhadap pernikahan. Mereka beranggapan bahwa orang dewasa itu jahat, egois, tidak bertanggung jawab, dan hanya  memikirkan diri sendiri. Kalau sudah menjadi orang dewasa, mereka akan merasa takutmencari pasangan hidupnya, takut menikah sebab merasa dibayang-bayangi kekhawatiran kalau-kalau perceraian itu juga akan terjadi pada dirinya. Ketakutan atau kekhawatiran tersebut adakalanya benar-benar terjadi menimpa diri seseorang. Akibatnya, hidup dalam pernikahan berakhirdengan perceraian juga. Akan tetapi, adakalanya tidak terjadi perceraian. Hal ini sebenarnya bergantung pada diri individu yang bersangkutan. Namun , yang jelas perceraian orang tua akan mendatangkan perasaan traumatis bagi anak-anak.



c)  Ketidakstabilan kehidupan dalam pekerjaan

Setelah bercerai, individu merasakan dampak psikologis yang tidak stabil. Ketiakstabilan psikologisditandai dengan perasaan tidak nyaman, tidak tenteram, gelisah, resah, tidak damai, tidak bahagia, merasa gagal, menyalahkan diri sendiri, kecewa, sedih, stress, takut, khawatir dan marah. Akibatnya, secara fisiologis mereka tidak dapat tidur dan tidak dapat berkonsentrasi dalam bekerja sehingga mengganggu kehidupan kerjanya, misalnya prestasi kerja menurun.



Penyesuaian Diri Pascaperceraian 

Bagi individu yang melakukan perceraian dengan eks pasangan hidupnya, mau tidak mau harus menghadapi kenyataan. Sebelum menjadi seorang individu yang hidup sendiri lagi (re-single), mereka umumnya memiliki masalah penyesuaian diri. Dinamika emosional dalam proses penyesuaian diri individu, setelah mengalami perceraian, umumnya meliputi lima tahap, yaitu:

a)      Penolakan (denial)

b)      Kecemasan (anxiety)

c)       Melakukan tawar menawar (bargaining)

d)      Depresi dan

e)      Penerimaan (acceptance)




Penyesuaian Diri Setelah Pernikahan Lagi (Remarried)


Menyesuaikan dengan pasangan yang baru bukanlah masalah yang mudah, seringkali mereka menemukan berbagai hambatankarena sebelumnya mereka memiliki latar belakang yang berbeda. Bagi seorang duda, berarti dirinya memiliki pengalaman hidup bersama mantan istrinya. Sebaliknya, bagi seorang janda  telah memiliki pengalaman dengan mantan suaminya. Seperti halnya pandangan psikoanalisis Sigmund Freud (Hall dan Lindzay,1978) bahwa pengalaman masa lalu akan mempengaruhi sikap ataupun perilaku seseorang dimasa dating. Demikian pula baying-bayang pengalaman masa laku tidak dipungkiri menjadi dasar penilaian, persepsi, sikap ataupun tindakan seseorang dengan pasangan hidup barunya. Apabila seseorang (janda atau duda) memiliki pengalaman traumatis dengan mantan pasangan hidupnya terdahulu, kemungkinan persepsi yang dimiliki cenderung negative terhadap pasangan barunya. Pikiran-pikiran, prasangka atau perasaan buruk kemungkinan muncul dalam dirinya walaupun kata-kata ataupun perilaku seseorang kelihatan baik diluar. Oleh karena itu perlu pemahaman dan penerimaan masa lalu, serta dijalin komunikasi efektif  dan efisien dengan pasangan hidupnya yang baru agar tercipta kehidupan keluarga yang harmonis, rukun dan damai sentosa sampai tua.

SINGLE LIFE


Hidup sendiri (single life) merupakan salah satu pilihan hidup yang ditempuh seorang individu. Hidup sendiri berarti ia sudah memikirkan resiko yang akan timbul yang akan timbul sehingga mau tidak mau ia harus siap menanggung segala kerepotan yang muncul dalam perjalanan hidupnya.
Faktor-faktor Keinginan Hidup Sendiri
Sebagian orang menempuh cara hidup ini karena didasari oleh beberapa faktor, yaitu:
 
a.       Masalah ideologi atau panggilan agama

b.      Trauma perceraian

c.       Tidak memperoleh jodoh



Segi-segi Positif Hidup Sendiri
 
           1. Memperoleh nilai kebebasan. Individu merasa dapat menikmati kebebasan dalam melakukan berbagai aktivitas tanpa ada yang mengganggunya. Apabila ia melakukan suatu aktivitas perjalanan sampai jarak jauh dan menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tidak ada seorang yang mengusiknya. Selain itu dengan hidup sendiri, seseorang secara bebas akan dapat mengembangkan diri demi peningkatan hidup di masa depan.


              2.   Kemandirian dalam pengambilan keputusan. Individu benar-benar merasakan kehidupan privasi. Ia dapat mengatur program kegiatan yang disukai dan menghindari (menjauhi) kegiatan yang tidak disukainya tanpa harus mempertimbangkan keputusan atau usulan orang lain.



Segi-segi Negatif Hidup Sendiri


                      Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan seksual. Setiaporang yang menginjak masa dewasa muda, baik laki-laki maupun perempuan, tidak dipungkiri memiliki dorongan biologis yang bersifat alamiah. Bila ia hidup sendiri, kemungkinan besar seseoang tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual. Oleh karena itu, dalam pandangan biologis ini,para selibater dalam gereja katolik yang tidak mapu menahan dorongan seksual tersebut, disaranka untuk keluar dan meninggalkan hidup selibat. Sebagian diantara mereka setelah mengundurkan diri secara sukarela, procedural, dan sah untuk menikah dan menjalani kehidupan sebagaimana laximnya manusia yang lain. Bahkan seorang tokoh reformator Gereja dari Jerman, Martin Luther, setelah berhasil melakukan reformasi ditubuh gereja meninggalkan hidup selibat. Ia mendobrak aturan gereja katolik tersebut. Setelah reformasi, ia sendiri menjalankan kehidupan layaknya manusia normal dan menikah.




Sumber:
Gunarsa, Singgih. 2004. Psikologi Untuk Muda Mudi. Jakarta: BPK Gunung Mulya.
Nilam. Psikologi Populer: Menuju Perkawinan Harmonis. Jakarta: Elex Media Komputindo. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar