Ringkasnya dalam teori X dan Y Dougls McGregor berusaha
mengungkapkan bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja dan sekaligus
bagaimana gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam situasi lingkungan kerja
yang berbeda, termasuk bagaimana komunikasi antar pribadi (manajer dan bawahan)
tersebut dikembangkan dalam lingkungan kerjanya.
b. Teori Sistem 4 dari Rensis Likert
Teori Empat Sistem (bahasa Inggris: Four Systems Theory) adalah salah satu teori komunikasi yang mengkaji hubungan antar manusia melalui hasil dari produksinya dilihat dari kacamata manajemen. Rensis Likert dari Universitas Michighan mengembangkan model peniti penyambung (linking pin model)
yang menggambarkan struktur organisasi. Menurut Luthans (1973) struktur
peniti penyambung ini cenderung menekankan dan memudahkan apa yang
seharusnya terjadi dalam struktur klasik yang birokratik. Ciri
organisasi berstruktur peniti penyambung adalah lambatnya tindakan
kelompok, hal ini harus diimbangi dengan memanfaatkan partisipasi yang
positif.
Bila seseorang memperhatikan dan memelihara pekerjanya dengan baik maka operasional organisasi akan membaik.
Fungsi-fungsi manajemen berlangsung dalam empat sistem:
- Sistem Pertama: Sistem yang penuh tekanan dan otoriter dimana
segala sesuatu diperintahkan dengan tangan besi dan tidak memerlukan
umpan balik. Atasan tidak memiliki kepercayaan terhadap bawahan dan
bawahan tidak memiliki kewenangan untuk mendiskusikan pekerjaannya
dengan atasan. Akibat dari konsep ini adalah ketakutan, ancaman dan
hukuman jika tidak selesai. Proses komunikasi lebih banyak dari atas
kebawah.
- Sistem Kedua: Sistem yang lebih lunak dan otoriter dimana
manajer lebih sensitif terhadap kebutuhan karyawan. Manajemen berkenan
untuk percaya pada bawahan dalam hubungan atasan dan bawahan, keputusan
ada di atas namun ada kesempatan bagi bawahan untuk turut memberikan
masukan atas keputusan itu.
- Sistem Ketiga: Sistem konsultatif dimana pimpinan mencari
masukan dari karyawan. Disini karyawan bebas berhubungan dan berdiskusi
dengan atasan dan interaksi antara pimpinan dan karyawan nyata.
Keputusan di tangan atasan, namun karyawan memiliki andil dalam
keputusan tersebut.
- Sistem Keempat: Sistem partisipan dimana pekerja
berpartisipasi aktif dalam membuat keputusan. Disini manajemen percaya
sepenuhnya pada bawahan dan mereka dapat membuat keputusan. Alur
informasi keatas, kebawah, dan menyilang. Komunikasi kebawah pada
umumnya diterima, jika tidak dapat dipastikan dan diperbolehkan ada
diskusi antara karyawan dan manajer. Interaksi dalam sistem terbangun,
komunikasi keatas umumnya akurat dan manajer menanggapi umpan balik
dengan tulus. Motivasi kerja dikembangkan dengan partisipasi yang kuat
dalam pengambilan keputusan, penetapan goal setting (tujuan) dan
penilaian.
Teori empat sistem ini menarik karena dengan penekanan pada
perencanaan dan pengendalian teori ini menjadi landasan baik untuk teori
posisional dan teori hubungan antar pribadi.
c. Theory of Leadership Pattern Choice dari Tannenbaum dan Scmidt
Tujuh “pola
kepemimpinan” yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt. Demokrasi (hubungan
berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang
oleh bawahan. Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang
ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin. Perhatikan bahwa sebagai
penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis)
penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
- Kepemimpinan Pola 1: “Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan oleh superior.”
Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa sering untuk bertemu.
- Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta kelompok untuk membuat keputusan.”
Contoh:
Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali
seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik
- Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok menunjukkan, maka pemimpin membuat keputusan.”
Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
- Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin tentatif menyajikan keputusan untuk kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok.”
Contoh:
Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Rabu akan menjadi hari yang baik
untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
- Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang pertanyaan.”
Contoh:
Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari
Rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka
memiliki pertanyaan.
- Kepemimpinan Pola 6: “Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang benar.”
Contoh:
Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada
hari Rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Rabu adalah
hari-hari terbaik untuk bertemu.
- Kepemimpinan Pola 7: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup.”
Contoh:
Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari Rabu apakah mereka
suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim.
d. Modern Choice Approach to Participation
Model ini mengarah kepada pemberian suatu rekomendasi tentang gaya
kepemimpinan
yang sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu.Menurut
teori ini, gaya kepemimpinan
yang tepat ditentukan oleh corak persoalan
yang dihadapioleh macam keputusan yang
harus diambil. Ada tiga perangkat
parameter yang penting dalam gaya kepemimpinan teori
ini, yaitu
klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas keputusan, kriteria penemu
kenalan jenis situasi pemecahan persoalan.
e. Contingency Theory of Leadership dari Fiedler
Model kemungkinan kepemimpinan pertama yang
komprehensif dikembangkan oleh Fred Fiedler. Model kemungkinan Fiedler (Fiedler Contingency Model) menyatakan
bahwa kinerja kelompok yang efektif bergantung pada kesesuaian antara gaya
pemimpin dan sejauh mana situasi tersebut memberikan kendali kepada pemimpin
tersebut.
Mengidentifikasi gaya kepemimpinan. Fiedler
meyakini bahwa salah satu faktor utama bagi
kepemimpinan yang berhasil adalah
gaya kepemimpinan dasar seorang individu. Jadi, ia mulai dengan
berusaha mencari tahu apa gaya dasar tersebut. Fiedler lalu menyusun suatu
kuesioner rekan kerja yang paling tidak disukai (least preferred
coworker—LPC—questionnaire) demi maksud ini, ia mengukur apakah seseorang
berorientasi tugas atau hubungan. Kuesioner LPC merupakan kumpulan 16 kata sifat
yang saling berlawanan (seperti menyenangkan-tidak menyenangkan, efisien-tidak efisien, terbuka-tertutup, suportif-bermusuhan). Fiedler meminta para
respondennya untuk mengingat semua rekan kerja mereka dan mendeskripsikan satu
orang diantara mereka yang paling tidak disukai
untuk mereka ajak kerja sama dengan cara memberi nilai pada orang tersebut
dengan skala 1 sampai 8 untuk tiap-tiap 16 kumpulan kata sifat yang saling
berlawanan diatas. Fiedler yakin bahwa berdasarkan jawaban-jawaban para
responden dalam kuesioner LPC ini, ia bisa menentukan gaya kepemimpinan dasar
mereka. Apabila rekan kerja yang paling tidak disukai dideskripsikan dalam
pengertian yang relatif positif (nilai LPC tinggi), responden tersebut berarti
ingin menjalin hubungan pribadi yang baik dengan rekan kerjanya itu.
Berikutnya, hal tersebut berarti bila anda mendeskripsikan orang yang paling
tidak bisa anda ajak kerja sama dengan istilah yang baik, Fiedler akan meyebut
anda sebagai orang yang berorientasi
hubungan. Sebaliknya, bila rekan kerja yang paling tidak disukai dinilai.
Dalam pengertian yang relatif tidak baik
(nilai LPC yang rendah), responden tersebut pada dasarnya tertarik pada
produktifitas dan karenanya akan disebut berorientasi
tugas. Sekitar 16% responden mendapat nilai tingkat menengah.
Individu-individu seperti ini tidak bisa diklasifikasikan sebagai orang yang
berorientasi hubungan atau tugas dan oleh karenanya jatuh diluar prediksi teori
tersebut. Dengan demikian, sisa diskusi kita berhubungan dengan 84% yang mendapat
nilai tinggi atau rendah dalam LPC mereka.
Fiedler
mengasumsikan bahwa gaya kepemimpinan seseorang bersifat tetap atau tidak akan
berubah. Seperti akan kami tunjukkan, asumsi ini secara khusus penting karena itu
artinya bahwa bila suatu situasi membutuhkan seorang pemimpin yang berorientasi
tugas dan orang yang berada dalam posisi kepemimpinan adalah orang yang
berorientasi hubungan, situasi tersebut harus diubah atau pemimpin tersebut
harus diganti bila efektifitas yang optimal ingin dicapai.
Memahami situasinya. Setelah gaya kepemimpinan
dasar seseorang diketahui melalui LPC, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah
mencocokkan si pemimpin dengan situasi. Fiedler mengidentifikasi tiga dimensi
kemungkinan yang menurutnya menentukan faktor-faktor situasional. Kunci yang
menentukan efekifitas kepemimpinan. Faktor-faktor tersebut adalah hubungan pemimpin-anggota,
struktur tugas, dan kekuatan posisi. Ketiganya didefinisikan sebagai berikut:
1. Hubungan
pemimpin-anggota: Tingkat kepatuhan, kepercayaan dan easa hormat para
anggota terhadap pemimpin mereka.
2. Struktur
tugas: Tingkat sejauh mana penentuan pekerjaan diproseduralkan (yaitu,
terstruktur atau tidak terstruktur).
3. Kekuatan
posisi: Tingkat pengaruh yang dimiliki oleh seorang pemimpin atas
variabel-
variabel kuas seperti perekrutan, pemecatan, pendisiplinan,
promosi dan kenaikan gaji.
Langkah berikutnya dalam model Fiedler adalah
mengevaluasi situasi menurut tiga variabel kemungkinan ini. Apakah hubungan
pemimpin-anggota baik atau buruk, apakah struktur tugas tinggi atau rendah, dan
apakah kekuatan posisi kuat atau lemah? Fiedler menyatakan bahwa bila hubungan pemimpin anggota lebih baik, struktur pekerjaan lebih tinggi, dan kekuatan
piosisi lebih kuat, kontrol yang dimiliki oleh pemimpin tersebut pun lebih
besar. Sebagai contoh, dalam suatu situasi yang benar-benar baik ( dimana
pemimpin memiliki kontrol yang besar), terdapat seorang manajer penggajian yang
amat dihormati dan yang amat dipercayai oleh karyawan-karyawannya (hubungan pemimpin-anggota yang baik), karena berbagai aktivitas yang mestinya
dijalankannya—seperti perhitungan gaji, penulisan cek, pembuatan laporan—memang
spesifik dan jelas (struktur tugas yang tinggi), serta pekerjaan tersebut
menawarkannya kebebasan untuk memberi penghargaan dan hukuman kepada para
karyawannya (kekuatan posisi yang kuat). Sebaliknya salah satu contoh situasi yang tidak menyenangkan adalah seorang ketua yang tidak disukai oleh tim
penggalangan dana sukarela United Way. Dalam menjalankan pekejaannya, pemimpin
itu hanya memiliki sedikit kontrol. Secara keseluruhan, dengan memadukan ketiga
dimensi kemungkinan ini, akan muncul delapan situasi atau kategori yang berbeda
dimana para pemimpin bisa menemukan diri mereka.
Mencocokkan pemimpin dengan situasi. Dengan
mengetahui LPC seseorang dan nilai dari tiga dimensi kem ungkinan sebagaimana
disebutkan sebelumnya, model Fiedler mencocokkan keduanya untuk mencapai
efektifitas kepemimpinan yang maksimal. Berdasarkan penelitiannya, Fiedler menyimpulkan bahwa pemimpin yang berorientasi tugas cenderung bekerja secara
lebih baik dalam situasi yang sangat menguntungkan dan dalam situasi yang sangat
tidak menguntungkan mereka. Karenanya Fiedler memprediksi
bahwa ketika dihadapkan dengan kategori situasi I, II, III, VII atau VIII, pemimpin
yang berorientasi tugas akan bekerja secara lebih baik. Sebaliknya,
pemimpin-pemimpin yang berorientasi hubungan mampu bekerja dengan lebih baik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan—kategori IV dan VI. Dalam
beberapa tahun terakhir, Fiedler berhasil memadatkan kedelapan situasi ini
menjadi tiga. Sekarang ia bisa mengatakan bahwa pemimpin yang berorientasi tugas bekerja sangat baik dalam
situasi-situasi dengan tingkat kontrol yang tinggi dan rendah, sementara pemimpin
yang berorientasi hubungan bekerja sangat baik dalam situasi-situasi dengan
tingkat kontrol yang moderat.
Setelah memahami temuan-temuan Fiedler
tersebut, bagaimana anda bisa menerapkannya? Yang perlu anda lakukan adalah
mencocokkan pemimpin dengan situasi. Nilai LPC seseorang akan menentukan jenis
situasi yang paling sesuai untuk mereka. “Situasi” itu sendiri akan
didefinisikan dengan cara mengevaluasi ketiga faktor kemungkinan—hubungan
pemimpin anggota, struktur tugas, dan kekuatan posisi. Tetapi ingat bahwa
Fiedler menganggap gaya kepemimpinan seseorang sebagai sesuatu yang tetap.
Karena itu, hany ada dua cara untuk meningkatkanefektifitas pemimpin.Pertama, anda bisa mengganti pemimpin tersebut agar sesuai dengan situasi yang ada—seperti dalam sebuah permainan bisbol,
seorang manajer bisa menempatkan seorang pelempar bola yang kidal atau bukan
dalam permainan, bergantung pada berbagai karakteristik situasional dari si
pemukul. Jadi, misalnya, apabila situasi kelompok dinilai sangat tidak
menguntungkan tetapi saat itu mereka tengah dipimpin oleh seorang manajer yang
berorientasi hubungan, kinerja kelompok dapat ditingkatkan dengan mengganti
manajer tersebut denganseorang manajer lain yang berorientasi tugas.
Alternatif kedua adalah mengubah situasi agar sesuai dengan sang pemimpin. Hal
tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan restrukturisasi tugas atau
meningkatkan atau mengurangi kekuatan yang dimiliki oleh pemimpin untuk
mengontrol berbagai faktor seperti kenaikan gaji, promosi dan tindakan disipliner.
f. Path Goal Theory
Dikembangkan oleh
Robert House, teori jalan-tujuanmengambil elemen-elemen dari penelitian
kepemimpinan Ohio State University tentang struktur awal dan tenggang rasa dan
teori pengharapan motivasi.
Teori Jalan-Tujuan.
Inti dari teori jalan tujuan (path-goal theory) adalah bahwa merupakan
tugas pemimpin untuk memberikan informasi, dukungan, atau sumber -sumber daya
lain yang dibutuhkan kepada para pengikut agar mereka bisa mencapai berbagai
tujuan mereka. Istilah jalan tujuan
berasal dari keyakinan bahwa para pemimpin yang efektif semestinya bisa
menunjukkan jalan guna membantu pengikut-pengikut mereka mendapatkan hal-hal
yang mereka butuhkan demi pencapaian tujuan kerja dan mempermudah perjalanan
serta menghilangkan berbagai rintangannya.Perilaku Pemimpin.
House mengidentifikasi empat perilaku kepemimpinan. Pemimpin yang direktif
member tahu kepada para pengikut mengenai apa yang diharapkan dari mereka,
menentukan pekerjaan yang harus mereka selesaikan, dan memberikan bimbingan khusus
terkait dengan cara menyelesaikan berbagai tugas tersebut. Pemimpin yang suportif adalah pemimpin yang ramah dan memerhatikan
kebutuhan para pengikut. Pemimpin yang
partisipatif berunding dengan para pengikut dan menggunakan saran-saran
mereka sebelum mengambil suatu keputusan. Pemimpin
yang berorientasi pencapaian menetapkan tujuan-tujuan yang besar dan
mengharapkan para pengikutnya untuk bekerja dengan sangat baik. Berlawanan
dengan Fiedler, House berasumsi bahwa pemimpin itu fleksibel dan bahwa pemimpin
yang sama bisa menampilkan satu atau seluruh perilaku ini bergantung pada
situasi yang ada.
Beragam Variabel dan
Prediksi Kemungkinan
Teori jalan-tujuan
menawarkan dua kelas variable kemungkinan yang menghubungkan perilaku
kepemimpinan dengan hasil—variabel-variabel dalam lingkungan yang berada diluar
kendali karyawan (struktur tugas, sistem otoritas formal, dan kelompok kerja)
serta berbagai variable yang merupakan bagian dari karakteristik personal karyawan (pusat
kendali, pengalaman dan kemampuan yang diyakini dimiliki). Faktor-faktor
lingkungan menentukan jenis perilaku pemimpin yang dibutuhkan sebagai pelengkap
apabila hasil pengikut ingin dimaksimalkan, sementara karakteristik personal
karyawan menentukan bagaimana lingkungan dan perilaku pemimpin
diinterpretasikan. Karenanya, teori ini menyatakan bahwa perilaku pemimpin akan
menjadi tidak efektif bila perilaku tersebut tumpang tindih dengan
sumber-sumber struktur lingkungan atau tidak kongruen dengan karakteristik
karyawan. Sebagai contoh, berikut adalah ilustrasi prediksi-prediksi yang
didasarkan pada teori jalan-tujuan:
- Kepemimpinan direktif menghasilkan kepuasan yang lebih besar
manakala tugas-tugasnya bersifat ambigu atau penuh tekanan bila
dibandingkan dengan ketika tugas-tugas tersebut terstruktur sangat ketat
dan diuraikan dengan sangat baik.
- Kepemimpinan yang suportif menghasilkan kinerja dan kepuasan
karyawan yang tinggi ketika karyawan mengerjakan tugas-tugas yang
terstruktur.
- Kepemimpinan direktif cenderung dipandang tidak efektif apabila
karyawan memiliki kemampuan yang diyakini baik atau penglaman yang banyak.
- Karyawan dengan pusat kendali internal akan lebih puas dengan gaya
partisipatif.
- Kepemimpinan yang berorientasi pencapaian dapat meningkatkan
harapan para karyawan bahwa usaha akan menghasilkan kinerja yang tinggi
ketikatugas-tugas disusun secara ambigu.
Evaluasi. Karena
kompleksitasnya, upaya untuk menguji teori jalan-tujuan ini terbukti tidak
gampang. Tinjauan terhadap petunjuk yang ada memberikan hasil yang beragam.
Sebagaimana dinyatakan dalam komentar para penyusun tinjauan ini, “hasil ini
menunjukkan bahwa kepemimpinan efektif tidak bergantung pada peniadaan hambatan
dan rintangan bagi instrumentalitas jalan karyawan seperti yang dinyatakan oleh
teori jalan-tujuan dan bahwa hakikat dari halangan ini tidak sejalan dengan
dalil teori tersebut”.Tinjauan yang lain menyimpulkan bahwa kurangnya bukti
pendukung sungguh “mengejutkan dan mengecewakan”. Kesimpulan-kesimpulan ini
diragukan oleh kalangan lain yang berpandangan bahwa pengujian yang memadai
atas teori ini belum dilakukan. Demikianlah, aman bagi kita untuk mengatakan
bahwa validitas teori jalan-tujuan ini masih diperdebatkan dan dicari. Karena
sangat rumit untuk diuji, permasalahan ini kiranya masih akan bertahan untuk
beberapa waktu yang akan datang.
MOTIVASI
Definisi Motivasi
Menurut Weiner (1990) yang dikutip Elliott et al (2000), motivasi didefinisikan
sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kitamencapaitujuan
tertentu dan membuat kita tetap tertarikdalam kegiatan tertentu. Menurut Uno
(2007), motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan external dalam
diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya (1) hasrat dan minat untuk
melakukan kegiatan, (2) dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan, (3)
harapan dan cita-cita, (4) penghargaan dan penghormatan atas diri, (5)
lingkungan yang baik, serta (6) kegiatan yang menarik. Motivasi adalah sesuatu
apa yang membuat orang bertindak (Sargent, di kutip oleh Howard, 1999)
menyatakan bahwa motivasimerupakan dampak dari interaksi seseorang dengan
situasi yang dihadapinya (Siagian,2004). Motivasi menjadi suatu kekuatan,
tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri
individu untuk bergerak kearah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak di
sadari (Makmun,2003).
Teori Drive Reinforcement
Teori Dorongan–Penguatan
(Drive–Reinforcement Theory) didasarkan atas hukum pengaruh (the law of
effect) yang dikemukakan Throndike pada tahun 1911. Tingkah laku
dengan konsekuensi positif cenderung untuk diulang, sementara tingkah
laku dengan konsekuensi negatif cenderung untuk tidak diulang.
Penelitian terhadap pengubahan perilaku menyarankan bahwa penguatan
perilaku dengan ganjaran biasanya lebih lebih efektif dari penguatan
dengan hukuman. Menurut Teori Dorongan–Penguatan, kebiasaan akan
diperkuat bila: (1) Penguatan terjadi secepatnya setelah
tanggapan-tanggapannya dilakukan, (2) Pengalaman penguatan diulang-ulang
dalam banyak kali, dan (3) Kapasitas penguatan (ganjaran atau hukuman)
adalah besar (Wexley dan Yukl, 2005:104).
Teori Harapan
Baru-baru ini, salah
satu pekerjaan tentang motivasi yang paling diterima dimana-mana adalah teori
harapan (expectancy theory) dari
Victor Vroom. Meskipun mendapatkan kritikan, sebagian besar bukti yang ada
mendukung teori ini.
Teori harapan menunjukkan bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk
bertindak dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa
tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari
hasil itu terhadap individu tersebut. Dalam bentuk yang lebih praktis, teori
harapan mengatakan bahwa karyawan-karyawan akan termotivasi untuk mengeluarkan
tingkat usaha yang tingi ketika mereka yakin bahwa usaha tersebut akan
menghasilkan penilaian kinerja yang baik; penilaian yang baik akan menghasilkan
penghargaan-penghargaan organisasional seperti bonus, kenaikan imbalan kerja,
atau promosi; dan penghargaan-penghargaan tersebut akan memuaskan tujuan-tujuan
pribadi para karyawan. Oleh karenanya, teori tersebut berfokus pada tiga
hubungan.
- Hubungan usaha- kinerja. Kemungkinan yang dirasakan oleh individu
yang mengeluarkan sejumlah usaha akan menghasilkan kinerja
- Hubungan
kinerja-penghargaan. Tingkat
sampai mana individu tersebut yakin bahwa bekerja pada tingkat tertentu
akan menghasilkan pencapaian yang diinginkan.
- bungan penghargaan—tujuan-tujuan
pribadi . Tingkat sampai
mana penghargaan-penghargaan organisasional memuaskan tujuan-tujuan
pribadi atau kebutuhan-kebutuhan seorang individu dan daya tarik dari
penghargaan-penghargaan potensial bagi individu tersebut.
Teori harapan membantu menjelaskan mengapa
banyak pekerja tidak termotivasi dalam pekerjaan-pekerjaan mereka dan hanya
melakukan usaha minimum untuk mencapai sesuatu. Ini sangat jelas ketika kita
melihat ketiga hubungan teori tersebut secara lebih mendetail. Kita menghadirkannya dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh karyawan-karyawan dalam bentuk
afimatif bila motivasi mereka ingin dimaksimalkan.
Teori Tujuan
Teori
tujuan menjelaskan perilaku dari segi pengaruh tujuan-tujuan sadar
manusia. Teori ini, seperti yang dirumuskan Locke adalah suatu
penjabaran dari konsep “Tingkatan Aspirasi” Lewin dan “Proposisi” Ryan.
Premis dasar Locke menyebutkan bahwa perilaku seseorang diatur menurut
tujuan-tujuan serta maksud-maksud tujuan individunya. Kuat lemahnya
tingkah laku manusia ditentukan oleh sifat tujuan yang hendak dicapai
(Wexley dan Yukl, 2005:113).
Manusia
akan cenderung untuk berjuang lebih keras mencapai suatu tujuan,
apabila tujuan itu jelas, dipahami dan bermanfaat. Makin kabur atau
makin sulit dipahami suatu tujuan, akan makin besar keenganannya untuk
berupaya.
Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
Penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi Abraham H.Maslow
menyarankan tentang bagaimana pemberi kerja dapat memotivasi para karyawan.
Teori Hierarki kebutuhan Maslow merupakan daftar dari kebutuhan manusia yang
telah diterima secara luas, dengan mendasarkan pada asumsi-asumsi berikut ini:
- Kebutuhan
orang-orang bergantung pada apa yang telah dimilikinya.
- Sebuah
kebutuhan yang terpuaskan bukanlah sesuatu yang memotivasi; tetap hanyalah kebutuhan tak terpuaskan yang dapat mempengaruhi perilaku.
- Kebutuhan
dari orang-orang ditata dalam sebuah hierarki kepentingan, ketika mereka memuaskan satu kebutuhan, setidaknya sebagian, yang lainnya muncul dan menuntut untuk dipuaskan.
Dalam teori hierarki kebutuhannya, Maslow mengajukan bahwa senua orang
memilikikebutuhan-kebutuhan dasar yang harus terpuaskan terlebih dahulu sebelum
mereka menyadari kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi tingkatannya. Ia
mengidentifikasi lima jenis dari kebutuhan:
- Kebutuhan
fisiologis(physiological needs).
Kebutuhan-kebutuhan dasar ini termasuk makanan, rumah tinggal dan pakaian.
Ditempat kerja, pemberi kerja memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini dengan membayar
gaji dan upah serta membangun suasana kerja yang nyaman.
- Kebutuhan
akan keamanan (safety needs).
Kebutuhan-kebutuhan ini mengacu pada hasrat terhadap perlindungan fisik dan
ekonomis. Karyawan memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini dengan memberikan manfaat
seperti program dana pensiun, keamanan kerja, dan lingkungan kerja yang aman.
- Kebutuhan
sosial (social/belongingness needs).
Orang-orang ingin diterima oleh keluarga dan individu-individu lain dan
kelompok. Di tempat kerja, para karyawan ingin membangun hubungan baik dengan
rekan kerja dan manajer mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.
- Kebutuhan
akan penghargaan (esteem needs) .
Orang-orang senang menerima perhatian, pengakuan, dan apresiasi dari orang
lain. Karyawan merasa senang ketika mereka dihargai atas kinerja yang baik dan
dihormati atas kontribusi mereka.
- Kebutuhan
aktualisasi diri (self-actualization). Kebutuhan-kebutuhan
ini mendorong orang-orang untuk mencari pemenuhan kebutuhan, menyadari tentang
potensi diri mereka, dan secara penuh menggunakan bakan dan kapabilitas mereka.
Para karyawan dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini dengan menawarkan
penugasan kerja yang kreatif dan menantang untuk peningkatan diri dengan
mempertimbangkan kebaikan individu.
Menurut Maslow, orang-orang harus memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang
jenjangnya lebih rendah (kebutuhan fisiologis dan kebutuhan keamanan) sebelum
mereka termotivasi untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi
(kebutuhan sosial, penghargaandan aktualisasi diri).
DAFTAR PUSTAKA
Boone, L, E. 2007. Pengantar Bisnis Kontemporer Edisi 11. Jakarta: Salemba Empat.
Budiarjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Noorkasiani. 2007. Sosiologi Keperawatan. Jakarta: EGC.
Nursalam. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Purwanto, D. 2006. Komunikasi Bisnis. Jakarta:
Erlangga.
Robbins, S, P. 2008. Perilaku Organisasi Edisi 12 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
Robbins, S, P. 2008. Perilaku Organisasi Edisi 12 Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.
Rosemary. 1999. Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: EGC.
Swanburg, R, C. 1994. Pengantar Kepemimpinan
dan Manajemen Keperawatan untuk Perawat Klinis. Jakarta: EGC.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. 2007. Ilmu
& Aplikasi Pendidikan. Bandung: Imtima.