Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 April 2014

Bentuk Utama Dalam Terapi



TERAPI SUPORTIF

Suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya.

Menurut Tomb (2003), terapi ini mungkin merupakan jenis psikoterapi individual yang paling lazim dilakukan. Terapis yang terlatih untuk metode ini terdiri atas psikiater, psikolog klinis dan pekerja sosial, walaupun hal-hal setara dengan yang dilakukan di dalam psikoterapi suportif digunakan oleh hampir setiap orang yang membantu orang lain yang sedang mengalami kondisi distres emosional. Pasien dianjurkan untuk datang sekali (atau lebih) seminggu, untuk beberapa minggu atau bulan (kadang ada pula yang mencapai tahunan). Termasuk di sini intervensi krisis yang singkat (untuk 1-3 pertemuan).

Terapis berurusan dengan gejala pasien, tetapi hanya sedikit mengolah proses alam nirsadarnya dan tidak berupaya untuk mengubah kepribadian. Pertahanan psikologik diperkuat dan teknik yang digunakan antara lain menenangkan, sugesti, mengeluarkan semua masalah, abreaction, dan manipulasi lingkungan. Terapis bersikap aktif, menunjukkan minat, berempati dan hangat, mendengarkan pasien, mengerti hal-hal yang menjadi perhatian pasien, dan menolong pasien untuk menentukan arah. Medikasi juga dapat diberikan (Tomb, 2003).

Pasien-pasien yang gagal mengatasi stres yang sedang dihadapi, merupakan calon yang baik, tanpa memperdulikan apakah mereka mempunyai problem psikiatrik yang mendasari atau tidak. Pasien-pasien dengan gangguan psikiatrik yang berat (misal, skizofrenia, gangguan afektif berat), sering menunjukkan hasil yang baik bila mendapat terapi gabungan antara medikasi dan psikoterapi suportif (Tomb, 2003).

Tujuan : 


- Menaikkan fungsi psikologi dan sosial 
- Menyokong harga dirinya dan keyakina dirinya sebanyak mungkin 
- Menyadari realitas, keterbatasannya, agar dapat diterima 
- Mencegah terjadinya relaps 
- Bertujuan agar penyesuaian baik 
- Mencegah ketergantungan pada dokter 
- Memindahkan dukungan profesional kepada keluarga

Syarat pemberian terapi :

- Gangguan bersifat sedang 
- Kepribadian premorbid pasien yang kuat disertai dengan adanya pemulihan diri yang kuat. 

Komponen :

Ventilasi
Bentuk psikoterapi yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pasien untuk mengemukakan isi hatinya dan sebagai hasilnya ia akan merasa lega serta keluhannya akan berkurang.

Persuasi
Psikoterapi suportif yang dilakukan dengan menerangkan secara masuk akal tentang gejala-gejala penyakitnya yang timbul akibat cara berpikir, perasaan, dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapinya.

Sugestif
Psikoterapi yang berusaha menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejala gangguannya akan hilang.

Reassurance
Psikoterapi yang berusaha meyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa ia sanggup mengatasi masalah yang dihadapinya.

Bimbingan
Psikoterapi yang memberi nasehat dengan penuh wibawa dan pengertian.

Penyuluhan/konseling
Psikoterapi yang membantu pasien mengerti dirinya sendiri secara lebih baik, agar ia dapat mengatasi permasalahannya dan dapat menyesuaikan diri.

Kerja kasus sosial
Suatu proses bantuan oleh seseorang yang terlatih kepada seorang pasien yang memerlukan satu atau lebih pelayanan sosial khusus. Tidak diadakan usaha mengubah pola dasar kepribadian pasien ataupun hanya hendak menangani masalah situasi pada tingkat realistik.

Terapi kerja
Berupa sekedar memberi kesibukan kepada pasien ataupun berupa latihan kerja tertentu agar ia terampil dalam hal itu dan berguna baginya untuk mencari nafkah kelak.

Hipnosa
Membantu psikoterapi akan terapi apa yang dapat dicapai dengan hipnosa dalam psikoterapi dapat juga dicapai dengan cara lain tanpa hipnosa. Hipnosa hanya dapat mempercepat pengaruh psikoterapi.

Terapi perilaku
Berusaha untuk menghilangkan masalah perilaku khusus secepat-cepatnya dengan mengawasi perilaku belajar pasien.


TERAPI REEDUKATIF

Menurut Maramis (2004), terapi reedukatif adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk penyesuaian diri kembali, memodifikasi tujuan, dan membangkitkan serta mengungkapkan potensi reaktif yang ada. 

Tujuan terapi reedukatif adalah untuk membangkitkan pengertian pada penderita tentang konflik-konflik jiwa yan dikandungnya, yang terutama terletak dalam alam sadarnya.

Cara psikoterapi reedukatif antara lain:
- Terapi hubungan antara manusia
- Terapi sikap
- Terapi wawancara
- Analisa dan sintesa yang distributif
- Konseling terapeutik
- Terapi kerja
- Reconditioning
- Terapi kelompok yang reedukatif
- Terapi somatik


TERAPI REKONSTRUKTIF

Terapi rekonstruktif menyelami alam tak sadar melalui teknis seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi.

Tujuan terapi rekonstruktif adalah untuk perombakan radikal daripada corak kepribadian hingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru.

Menurut Maramis (2004), cara-cara psikoterapi rekonstruktif antara lain:
- Psikoanalisa Freud
- Psikoanalisa non-Freud
- Psikoterapi yang berorientasi pada psikoanalisisnya (misalnya: asosiasi bebas, analisa mimpi, hipnoanalisa, narkoterapi, terapi bermain, terapi seni, dan terapi kelompok analitik)





Sumber:
Maramis, W, F. (2004). Catatan ilmu kedokteran jiwa. Edisi 7. Surabaya: Airlangga    University Press.
Tomb, D, A. 2003. Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC. 
Adhitya, S, A, Rakhmadi, M, Y, & Darma, S. Psikoterapi dan rehabilitas psikiatrik. http://www.scribd.com/doc/55373848/27/Psikoterapi-Reedukatif  

Sabtu, 22 Maret 2014

Perbedaan Konseling dan Psikoterapi


Perbedaan Konseling dan Psikoterapi


Stefflre dan Grant (1972), mengemukakan ada beberapa hal yang bisa dipakai sebagai usaha untuk memahami kedua terminologi, memahami berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan khusus keduanya dan untuk bisa membedakannya, yaitu:


1. Mengenai Tujuan

Konseling bertujuan membantu seseorang dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan agar bisa berlangsung lancar, misalnya, remaja yang dibantu dalam menghadapi masalah mengenai kehidupan seksnya, masalah kebebasan yang dituntut dari orang tua atau masalah pekerjaan yang sebaiknya diambil. Hahn & MacLean (1955), mengemukakan mengenai tujuan konseling yakni menitikberatkan pada upaya pencegahan agar penyimpangan yang merusak dirinya tidak timbul, sedangkan psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya. Mereka juga mengemukakan bahwa konseling berhubungan dengan rencana jangka panjang yang bersangkut-paut dengan pendidikan dan pekerjaan atau jabatan seseorang serta pencegahan terhadap munculnya gangguan dalam bidang kesejahteraan mental, sedangkan psikoterapi singkatnya berhubungan dengan tujuan penyembuhan.


2. Mengenai Klien, Konselor, dan Penyelenggaraannya

Pada konseling, konselor menghadapi klien yang normal, sebaliknya pada psikoterapi mengahadapi klien (atau pasien) yang mengalami neurosis atau psikosis. Seseorang penderita neurosis atau psikosis bisa saja menemui seorang konselor untuk tujuan melakukan konsultasi dan penanganan atau perawatan selanjutnya dilakukan melalui psikoterapi. 

Kepribadian seseorang yang terhambat (dalam arti lebih mendalam) atau terganggu (yang mungkin bersifat sementara atau tidak menetap) bisa menjadi salah satu pegangan untuk membedakan profesi seorang konselor dan psikoterapi. Kepribadian yang normal, yang wajar, dalam kenyataannya tidak tertutup kemungkinan membutuhkan seorang ahli untuk mengatasi hal-hal yang tidak bisa diatasi sendiri dan agar ia bisa berfungsi lebih efektif. Dalam keadaan seperti ini, ia membutuhkan seorang konselor, demikian dikatakan oleh Ivey et al (1987) dan selanjutnya mereka menunjukkan bahwa pada kegiatan psikoterapi dilakukan untuk menghadapi seseorang yang perlu direkonstruksi struktur kepribadiannya dan karena itu membutuhkan waktu lebih lama.


3. Mengenai Metode

Perbedaan metode ini dikutip uraian dari Brammer & Shostrom (1977), yang mengemukakan bahwa:

- Konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti: "educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time dan short-term".

- Psikoterapi ditandai oleh: "supportive (dalam keadaan krisis), reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long term".


Sumber: Gunarsa, S, D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.


Pengertian Psikoterapi


PSIKOTERAPI


Psikoterapi yang lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni "psyche" yang artinya jelas, "mind" atau sederhananya: jiwa dan "theraphy" dari bahasa Yunani yang berarti "merawat" atau "mengasuh", sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah "perawatan terhadap aspek kejiwaan" seseorang.

Dalam Oxford English Dictionary, perkataan "psychotheraphy" tidak tercantum, tetapi ada perkataan "psychotherapeutic" yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian.


 Sumber: Gunarsa, S, D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.